Skema anti Jeglek untuk listrik -->

Translate

Skema anti Jeglek untuk listrik

Ini adalah skema alat untuk meredam tegangan kejut pada listrik 220 V.

Jika di rumah Anda kok daya listrik rendah sedangkan pemakaian beban sangat besar biasanya alat tersebut akan menyebabkan tegangan kejut yang besar sehingga akan menyebabkan meteran dalam bahasa Jawanya itu diklik nya tapi dengan serangkaian ini setidaknya akan sedikit membantu agar tidak langsung terjadi beban yang sangat besar secara tiba-tiba.

Kita bisa mencoba membuat alat ini namun keberhasilan saya tidak bisa menjamin karena saya sendiri terus terang belum pernah mencoba skema ini ya. Buat para sobat yang telah ahli mungkin n' Roses a memberitahu saya kalau mungkin alat ini tidak sesuai dan tidak berfungsi Bagi yang mau mencoba silahkan mendownload gambarnya.

Mari kita jelaskan cara kerja alat ini berdasarkan skema rangkaian yang diberikan. Rangkaian ini tampaknya adalah sebuah sirkuit pembatas arus/tegangan sederhana atau soft-start untuk peralatan AC, khususnya yang berhubungan dengan tegangan AC. Mengingat komponennya, ini kemungkinan besar adalah sirkuit surge protector atau inrush current limiter untuk perangkat AC yang membutuhkan arus awal yang besar, atau bahkan sebagai pengontrol daya sederhana.

Komponen Utama dan Fungsinya:

  1. K1 & K2: Ini adalah konektor/terminal input dan output AC. K1 adalah input AC (misalnya dari stopkontak PLN), dan K2 adalah output AC yang akan dihubungkan ke beban (peralatan elektronik).

  2. F1 (Fuse): Sekering. Berfungsi sebagai pengaman. Jika terjadi arus berlebih (overcurrent) atau hubungan pendek (short circuit), F1 akan putus dan memutuskan aliran daya untuk melindungi rangkaian dan peralatan yang terhubung.

  3. R1 (470K), R2 (470K), R3 (220 Ohm): Ini adalah resistor.

    • R1 dan R2, bersama dengan C1, kemungkinan besar membentuk bagian dari rangkaian pembagi tegangan kapasitif atau X-rated capacitor discharge circuit.

    • R3 (220 Ohm) terletak di depan bridge rectifier dan bisa berfungsi sebagai resistor pembatas arus atau current limiter awal.

  4. C1 (330n, 250V~): Ini adalah kapasitor AC (biasanya tipe X2). Digunakan dalam rangkaian yang terhubung langsung ke jalur AC sebagai bagian dari pembagi tegangan kapasitif tanpa transformator, atau sebagai filter. Perlu diperhatikan rating tegangannya yang 250V~ (AC).

  5. B1 (B250C1500): Ini adalah Bridge Rectifier (penyearah jembatan). Spesifikasinya B250C1500 berarti dapat menangani tegangan AC input hingga 250V dan arus hingga 1.5A. Fungsinya adalah mengubah tegangan AC menjadi tegangan DC yang berdenyut.

  6. C2 (470$\mu\mu$F, 40V): Ini adalah kapasitor elektrolit. Mereka berfungsi sebagai kapasitor filter untuk meratakan tegangan DC hasil penyearahan dari B1, mengubahnya menjadi tegangan DC yang lebih halus. Mereka juga dapat berfungsi sebagai kapasitor penyimpanan energi untuk relai.

  7. Re1 (V23057-B0006-A201): Ini adalah Relai (Relay). Relai adalah sakelar elektromagnetik. Ketika kumparannya diberi daya (dari tegangan DC yang dihasilkan oleh B1, C2, C3), ia akan mengaktifkan kontak sakelarnya.

    • Ada tanda "see text" untuk Re1 dan bintang untuk kaki relai yang terhubung ke sumber AC output, mengindikasikan bahwa relai ini memiliki kumparan dan kontak. Kumparan relai (yang menyebabkan relai aktif) diberi daya dari jalur DC setelah kapasitor C2 dan C3. Kontak relai digunakan untuk mengontrol aliran arus utama ke beban.

  8. R4, R5, R6, R7 (10 Ohm, 5W): Ini adalah resistor daya tinggi (5W). Mereka terhubung secara seri dan ditempatkan pada jalur utama AC ke K2 (output). Resistor-resistor ini kemungkinan besar berfungsi sebagai resistor pembatas arus awal (inrush current limiting resistors).

Cara Kerja Alat Ini (Kemungkinan Besar sebagai Soft-Start atau Inrush Current Limiter):

  1. Kondisi Awal (Beban Mati):

    • Ketika rangkaian pertama kali dihubungkan ke sumber AC (K1) dan beban (peralatan) dimatikan atau baru dinyalakan, relai Re1 dalam kondisi tidak aktif (kontaknya terbuka).

    • Arus AC utama ke beban (melalui K2) akan mengalir melalui resistor seri R4, R5, R6, R7. Karena resistor ini memiliki nilai total 40 Ohm (10 Ohm x 4), mereka akan membatasi arus awal yang mengalir ke beban. Ini sangat penting untuk perangkat yang memiliki kapasitor besar di bagian input power supply-nya (seperti amplifier besar, switching power supply, atau motor), karena kapasitor tersebut dapat menarik arus inrush yang sangat tinggi saat pertama kali dihidupkan, yang dapat memicu sekering atau merusak komponen lain.

  2. Proses Soft-Start / Penundaan Aktivasi Relai:

    • Sebagian kecil tegangan AC dari jalur input (melalui R1, C1, R3) disearahkan oleh bridge rectifier B1 dan disaring oleh C2 dan C3 untuk menghasilkan tegangan DC.

    • Tegangan DC ini digunakan untuk memberi daya pada kumparan relai Re1.

    • Karena ada kapasitor C2 dan C3 yang perlu mengisi daya, akan ada sedikit penundaan sebelum tegangan DC cukup tinggi untuk mengaktifkan relai Re1. Ini adalah esensi dari "soft-start" atau penundaan.

  3. Relai Aktif (Setelah Penundaan Singkat):

    • Setelah beberapa saat (tergantung pada nilai C1, C2, C3, R1, R2, R3, dan karakteristik relai), tegangan DC pada C2/C3 akan mencapai ambang batas aktivasi relai Re1.

    • Relai Re1 akan aktif (menarik kontak). Ketika kontak Re1 menutup, ia akan mem-bypass atau meng-short resistor R4, R5, R6, R7.

  4. Kondisi Operasi Normal:

    • Setelah resistor R4-R7 dibypass, arus AC penuh sekarang dapat mengalir langsung ke K2 (dan ke beban) dengan resistansi minimal. Beban sekarang menerima daya penuh.

Tujuan Rangkaian Ini:

Tujuan utama rangkaian ini adalah untuk membatasi arus awal (inrush current) yang sangat tinggi saat sebuah peralatan (terutama yang berdaya besar dengan kapasitor filter besar) pertama kali dinyalakan. Dengan membatasi arus ini, rangkaian ini:

  • Mencegah sekering utama putus.

  • Mengurangi stres pada sakelar daya dan komponen power supply di dalam peralatan.

  • Meningkatkan masa pakai peralatan.

Kemungkinan Lain: Meskipun paling mungkin sebagai soft-start/inrush current limiter, rangkaian ini juga bisa digunakan sebagai:

  • Pengontrol Daya Sederhana: Jika relai dikontrol oleh rangkaian lain, ini bisa menjadi cara sederhana untuk menghidupkan/mematikan daya beban dengan relai.

  • Sensor Tegangan/Arus: Mungkin bagian dari rangkaian yang lebih besar yang memantau kondisi daya.

Namun, dengan adanya resistor daya tinggi (R4-R7) yang di-bypass oleh relai setelah penundaan, fungsi soft-start adalah yang paling masuk akal.

SEMUA ISI  ADALAH  HASIL KUMPULAN PENCARIAN DAN BEBERAPA SUMBER MEDIA BUKU MAJALAH DLL, KAMI TIDAK BERTANGGUNG JAWAB ATAS KEGAGALAN YANG DISEBABKAN OLEH GAMBAR YANG DIMUAT DI BLOG INI.